Minggu, 25 April 2010

Kisah inspiratif"SeSUCI HUMAIRAH" semoga bermanfaat.Amin

Sesuci Humaira


Hembusan bayu yang dingin bersama lautan yang membisu petang itu menyebabkan seorang usahawan muda, Firdaus namanya, mengenang kembali kisah silamnya yang penuh suka duka.
Humaira......begitulah nama seorang gadis yang amat dikasihinya 10 tahun lalu yang kini hanya tinggal kenangan.
Waktu pemeriksaan ujian masuk universitas yang akan mereka masuki itu hanya tinggal dua hari saja. Mereka telah berjanji untuk bersama-sama meneruskan pelajaran di sana dan bersama-sama memperoleh hasil yang cemerlang ke menara gading, impian mereka selama ini. Walaupun begitu, betullah kata pepatah, "Kusangkap panas sampai petang, rupanya hujan di tengah hari," bisik hati kecil Firdaus ketika mendapati dirinya gagal mendapat tempat di menara gading itu sedangkan Humaira berhasil dengan gemilang.
"Humairah...," kata Firdaus perlahan petang itu. "Sesungguhnya ada satu hal yang hendak Fir sampaikan dan semoga Humaira tidak mengecewakan Fir." Humaira yang tadinya masih dalam sedu sedan tangisnya karena kegagalan Firdaus, tiba-tiba terhenti lalu memandang wajah Firdaus dengan penuh keheranan.
"Sebenarnya, telah lama kusimpan perasaan ini, namun demi pelajaran kita dulu, kusimpan ia hingga hari ini. Humaira...sebelum kau ke menara gading, ingin kunyatakan bahwa aku terlalu menyayangi dirimu teman hidupku," kata Firdaus penuh harapan.
"Fir...apakah kata-kata itu datang dari hati Fir yang ikhlas ?" tanya Humaira ingin mendapatkan kepastian. "Ya, Humaira, semoga Humaira tidak mengecewakan Fir," sambung Firdaus lagi. Humaira tunduk malu tanda setuju.
Mereka pun mengikat tali pertunangan setelah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak keluarga dan akan melangsungkan perkawinan tiga tahun lagi, setelah Humaira menamatkan belajarnya di universitas.
Dalam usia setahun pertunangan mereka, hanya surat dan telefon yang menjadi penghubung antara mereka dan bertemu bila Humaira pulang liburan.
Masuk tahun kedua pertunangan mereka, Firdaus merasakan sesuatu yang berbeda dengan Humaira. Kalau dulu, isi suratnya mengenai ketidaksabaran menemui Firdaus, tetapi kini...cuma menasihati Firdaus supaya tidak meninggalkan sholat liwa waktu, jadi hamba Allah yang taat dan macam-macam lagi. Beberapa risalah bercorak Islam juga sering disertakan bersama suratnya
buat Firdaus.
Di tahun ketiga Humaira di universitas, Firdaus merasakan dirinya dan Humaira semakin jauh, tidak seperti dulu lagi. Dulu, meeka begitu mesra sekali tetapi sekarang...semuanya sepi, beku dan kaku! Setiap kali Firdaus menelepon Humaira, jarang dia dapat berbicara sendiri dengan Humaira. Kalau dapat pun tiada lagi tawa riang macam dulu, malah semuanya serius! "Kenapa ?"
bisik hati kecil Firdaus.
Firdaus mencoba menelepon Humaira lagi pada suatu ketika dengan harapan semoga Humaira sudi keluar bersamanya karena dia telah begitu rindu kepada Humaira.
"Assalamu'alaikum," bunyi suara yang menyambut telepon. Firdaus merasa pasti bahwa itu suara Humaira yang dirindukannya. "Humaira ?" tanya Firdaus tanpa menjawab salam yang diberi. "Ya, Humaira di sini, siapa ini ?" tanya
Humaira. "Hai...tunangan sendiri pun sudah tak kenal ?" kata Firdaus dengan nada merajuk. "Oh!...Firdaus,"jawab Humaira agak kaget. "Fir ingin mengajak Humaira ke Restoran Jamilah, tempat kita selalu makan dulu, Fir akan jemput Humaira jam 8 malam ini, OK ?" kata Firdaus penuh harapan.
"Maaf, Fir, Humaira agak sibuk sekarang," balas Humaira. "Hai! Tak ingin ketemu tunangan sendiri lagi ? Tak ingin seperti orang lain atau seperti kita sewaktu di awal-awal pertunangan dahulu ? Ada apa dengan engkau, Humaira? Kau selalu menolak ajakan Fir dengan alasan yang bermacam-macam," keluh Firdaus dengan suara yang agak keras.
"Begini, Fir...sebenarnya antara kita masih belum ada apa-apa ikatan yang sah, cuma bertunangan dan bertunangan juga tidak boleh dijadikan tiket untuk kita berdua-duaan tanpa mahram dan hukumnya adalah haram," kata Humaira
menjelaskan alasan kenapa dia enggan memenuhi ajakan Firdaus. "Wah! Wah!
Wah...! Sejak kapan engkau jadi ustadzah nih ? Setahu Fir, Humaira sekolah ambil jurusan Ekonomi, bukan Syari'ah atau Ushuluddin," kata Firdaus sekali lagi dengan nada kesal.
"Ini bukan masalah ustadzah atau bukan ustadzah, Fir...tetapi, setiap orang Islam mesti mengetahui halal dan haramnya sebelum melakukan sesuatu agar tidak dimurkai Allah SWT. Maaf, Fir...Humaira tak dapat memenuhi permintaan Fir untuk keluar berdua. Humaira rasa lebih baik Fir berjumpa dengan keluarga Humaira jika ada hal yang hendak dibincangkan," jelas Humaira
dengan harapan Firdaus memahaminya.
"Ah! Sudahlah Humaira, aku sudah bosan dengan engkau, itu tak boleh...ini haram...itu haram. Mulai hari ini antara kita telah putus dan tiada apa-apa ikatan lagi," sambung Firdaus marah.
"Fir, bukan itu maksud Humaira," kata Humaira yang agak terkejut dengan keputusan Firdaus. "Ya, Humaira...aku rasa lebih baik kita putuskan saja tali pertunangan kita ini karena antara kita sudah tiada penyesuaian lagi,
pergilah kau dengan da'wahmu dan biarkan aku dengan cara hidupku," kata Firdaus penuh ego.
Suasana sepi seketika, Firdaus tahu Humaira terkejut dengan keputusan dan kekerasan kata-katanya. "Fir," Humaira memulai lagi kata-katanya.
"Andai itu sudah menjadi keputusan Fir, apa boleh buat, cuma do'a Humaira semoga suatu hari nanti Allah membuka hati Fir dan menjadi hamba-Nya yang ta'at dan sama-sama dalam perjuangan Islam yang suci," kata Humaira tenang.
"Selamat tinggal Humaira!" kata Firdaus memutuskan percakapan sambil menghe